Lynx menatap perubahan ekspresi di wajah kedua orang di depannya. Instingnya mengatakan, sebagai wartawan, mereka pasti punya jaringan narasumber yang luas, setidaknya cukup untuk mengorek informasi yang mereka butuhkan. Namun mereka justru terlihat seperti ada yang disembunyikan.

Pria itu maju selangkah, mengulurkan tangan dengan ramah. "Kita belum sempat berkenalan. Aku Habibi, dan ini rekanku, Laura."

Lynx menyambut uluran itu dengan anggukan ringan. "Aku Lynx, dan ini istriku, Leena. Kami baru tiba di kota ini. Jika kalian mendengar sesuatu yang berkaitan dengan orang yang sedang kami cari… kami sangat menghargai bantuannya."

Leena menoleh cepat saat mendengar kata "istriku" keluar dari mulut Lynx. Wajahnya langsung memanas, dan meski ia berusaha tetap tenang, rona merah merayap pelan di pipinya. Hatinya seperti digelitik sesuatu yang lembut. *Istriku…* Ia mengulang-ulang kata itu dalam hati, seolah tak percaya Lynx mengucapkannya begitu saja di depan orang asing.

"Leena… bagaimana kami bisa menghubungi kalian nanti?" tanya Laura, memecah lamunan Leena. "Kalian punya nomor atau kontak?"

Leena terperanjat, menatap Lynx dengan tatapan bingung, belum sempat menjawab.

"Kami kehilangan semua barang kami," jawab Lynx tenang. "Sekarang kami bahkan tak membawa alat komunikasi apa pun. Apa kalian bisa memberi kami kartu nama? Mungkin kami bisa menghubungi kalian nanti."

Laura mengangguk, tapi sorot matanya tajam, penuh rasa ingin tahu. "Orang seperti kalian… tidak mungkin kehilangan barang tanpa perlawanan. Kecuali pelakunya metahuman, benar begitu?"

Nada suaranya penuh selidik, khas wartawan yang terbiasa menggali informasi dari celah terkecil.

"Laura." Habibi menoleh, nada suaranya menegur. Ia buru-buru menyelipkan kartu nama ke tangan Lynx. "Maafkan rekanku. Kebiasaan kami memang suka bertanya terlalu dalam."

Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tapi percayalah, niat kami hanya ingin membantu. Dan kalian sudah menyelamatkan nyawa kami. Kalau suatu hari kalian butuh bantuan, jangan ragu untuk menghubungi."

"Tidak mengapa. Kami mengerti. Tapi… apakah semua Metahuman memang bisa mengubah-ubah bentuk tubuh seperti Elastok tadi?" tanya Leena lagi. Meski pernah mendengar cerita sebelumnya, menyaksikannya secara langsung membuat rasa penasarannya tumbuh.

"Apakah kalian benar-benar tidak tahu tentang Metahuman?" tanya wanita itu sambil mengamati wajah Leena yang tampak heran. Laura menatap mereka berdua, sedikit tercengang, seolah tak percaya ada orang yang tidak tahu tentang Metahuman.

Lynx dan Leena saling melirik, sejenak terdiam dalam kecanggungan. "Kami jarang keluar… dan tidak tahu banyak soal Metahuman. Yang kami temui sejauh ini hanya yang memiliki kekuatan fisik," jawab Lynx sambil mencari-cari alasan yang masuk akal.

Wanita itu menarik napas pelan, lalu menjelaskan dengan suara lebih rendah, seakan berbicara tentang sesuatu yang seharusnya sudah umum diketahui.

"Metahuman adalah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan di luar batas manusia biasa. Bukan sekadar kuat. Beberapa bisa mengendalikan elemen, ada yang secepat kilat, dan ada juga yang mampu mengubah bentuk tubuh mereka. Seperti yang kalian lihat tadi, banyak dari mereka bekerja sebagai tentara bayaran… atau malah penjahat. Memang ada yang membantu menjaga kota, tapi itu lebih jarang terjadi."

Lynx mengernyit. "Jadi… mereka itu manusia dengan kemampuan khusus?"

"Benar," sahut Habibi, ikut menyela dengan anggukan kecil. "Ada yang bisa terbang, memanipulasi molekul tubuh, atau yang lebih aneh lagi… seperti pria tadi, yang tubuhnya bisa melar seperti karet."

Laura kemudian menyentuh lengan Habibi, lalu menunjuk pergelangan tangan kirinya, isyarat bahwa waktu mereka hampir habis.

"Lynx, Leena, kami harus segera mencari berita. Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Laura sambil berbalik, lalu pergi bersama Habibi.

Di tengah langkah mereka yang menjauh, Habibi berbisik pelan, "Laura, mereka tadi bilang sedang mencari Kanaya. Bukankah… Kanaya itu kakakmu yang menjadi Metahuman?"

Laura mengangguk pelan. "Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi kabarnya dia sering turun ke dunia bawah. Dia senang bertarung. Mungkin karena itu… aku tak terlalu dekat dengannya."

"Kau tak berniat memberi tahu mereka di mana kakakmu berada?" tanya Habibi hati-hati.

"Mereka memang membantu kita, tapi… jika mereka berniat jahat pada Kanaya, aku tak akan tinggal diam," kata Laura tegas, suaranya dingin.

"Sudahlah. Kita fokus cari berita saja. Lagipula, besok pagi aku akan menyelidiki siapa sebenarnya dua orang itu," gumam Laura sambil mempercepat langkahnya. Namun secara diam-diam dia mengetik di perangkatnya dan mengirimkan pesan ke seseorang.

Di kejauhan, Lynx dan Leena saling bertatapan.

"Kamu dengar kata Laura? Kanaya itu kakaknya." kata Leena. Sebagai Kultivator, dia memiliki pendengaran yang lebih tajam dari manusia biasa, sehingga perkataan Laura dan Habibi bisa didengarnya dengan jelas.

Lynx menganggukkan kepalanya."Dunia bawah... Kita akan mencari tempatnya."

***

"Kenapa kamu tersenyum, Kanaya?" tanya Komandan Vex, matanya menyipit curiga.

Kanaya menyunggingkan senyum dingin. "Karena aku tahu siapa yang datang ke dunia kita. Dia bukan orang sembarangan. Sangat berbahaya. Tapi juga… salah satu target buruanku."

Ia mengingat kembali hasil penyelidikannya di Kota Zhurong. Nama Lynx disebut berulang kali. Pemuda itu dianggap sosok penting dalam kelompok Lala, bahkan disebut sebagai kepala suku. Ia juga pernah merasakan sendiri bagaimana Lynx nyaris membunuhnya yang sedang bersembunyi. Selain itu, pemuda itu juga bisa melepaskan hipnotis yang diberikannya kepada salah satu rekannya dengan mudah.

"Aku tak bisa menjelaskan kekuatan mereka. Tapi instingku sebagai pembunuh tak pernah salah. Dia sangat berbahaya." batin Kanaya.

"Siapa dia?" desak Komandan Vex, suaranya mulai naik. "Kita harus segera menangkap atau membasminya jika dia tak bisa ditundukkan!"

Kanaya melirik perangkat komunikasinya. Pesan terbaru dari Laura masih terbuka, menanyakan tentang dua orang asing yang mencurigakan, Lynx dan Leena.

Ia menatap langsung ke mata Komandan Vex. "Komandan tidak akan menduganya. Salah satu dari mereka adalah pria yang pernah diceritakan Lala. Namanya Lynx. Dia yang meminum pil super buatan Profesor Milo."

"Apa? Dia?" Vex sontak berdiri, tangannya menghantam meja hingga permukaan logamnya bergema. Tatapannya penuh gairah membara. "Kalau kita bisa mendapatkan sampel sel dari tubuhnya… bukankah ini akan sangat membantu pekerjaan Dokter Zhang?"

"Anda benar, Komandan. Tapi kita tidak bisa meremehkannya. Aku pernah melihat mereka terbang, dan pemuda itu bahkan mampu menciptakan portal teleportasi," ujar Kanaya, suaranya serius.

Vex terdiam, kedua alisnya bertaut dalam pikirannya yang berputar cepat. Pasukannya memang kuat, tapi melakukan pergerakan terbuka di tengah kota bisa membahayakan segalanya. Terlalu banyak mata. Terlalu banyak risiko.

"Cari lokasinya sekarang," perintahnya akhirnya. "Aku akan menghubungi The Hunter. Biar mereka yang menangkapnya malam ini juga. Dan cari tahu bagaimana mereka bisa datang ke dunia kita!"

***

"Lynx, bagaimana sekarang? Ke mana kita mencari tempat yang dikatakan Laura?" tanya Leena gelisah. Nada suaranya mengandung kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. Awalnya ia sempat berpikir bahwa setelah sampai di dunia ini, segalanya akan berjalan lebih mudah. Mereka bisa segera menemukan Lala dan kembali ke Kota Zhurong. Tapi nyatanya, setelah berkeliling beberapa jam mencari petunjuk, hasilnya tetap nihil.

"Kita kembali dulu ke Kota Zhurong," jawab Lynx akhirnya, nada suaranya tenang namun mantap. "Setidaknya kita sudah tahu lokasi dunia ini, sehingga kita bisa datang kapanpun. Selain itu Kael mungkin bisa membantu kita menemukan Lala."

Ia sudah mencoba menggunakan mata langitnya untuk menembus permukaan kota dan mencari dunia bawah. Tapi dia tidak menemukan petunjuk tentang tempat yang di maksudkan Laura.

Leena mengangguk cepat. "Iya, Lynx. Sebaiknya kita lihat dulu kondisi mereka sekarang. Kasihan juga Isha sendirian di dalam dunia kecil."

"Aku akan membuat portal dimensi sekarang," ujar Lynx sambil mulai menggerakkan jemarinya, menyusun pola formasi yang tak terlihat oleh mata biasa.

Namun tiba-tiba, tubuhnya bergerak spontan. Lynx melompat ke samping, gerakannya begitu cepat hingga angin yang tersibak membuat Leena memicingkan mata. Sesaat kemudian, suara dentuman terdengar di tempat Lynx berdiri tadi.

Seseorang berlari ke arah mereka, sangat cepat, nyaris seperti kilatan. Ia gagal menyerang Lynx, dan kini berdiri dengan posisi siaga. Leena memundurkan langkah, kaget, lalu menoleh ke Lynx.

"Lynx, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja," jawab Lynx pelan. Tatapannya tajam tertuju pada sosok di hadapan mereka. "Tapi sepertinya kita harus menunda perjalanan kita kembali."

Orang itu mengenakan pakaian tempur berwarna biru gelap yang melekat seperti kulit kedua. Wajahnya tertutup masker hitam mengilap, hanya menyisakan sepasang mata yang berkilat dingin. Di dada sebelah kanan kostumnya, terdapat lambang petir berwarna kuning menyala, melengkung menyerupai huruf ‘Z’.

Sosok itu berdiri tegak, aura permusuhan memancar jelas dari tubuhnya. Udara di sekitarnya terasa lebih berat.

